by

Taman Baca Instagramable di SMP Negeri 16 OKU Inovatif dan Kreatif, Lihat Foto-Fotonya

siswi SMPN 16 OKU sedang literiasi di taman baca saat jam istirahat

Beritatotal.com – Boleh juga inovasi, kreasi dan terobosan yang dilakukan Kepala Sekolah (Kepsek) dan guru-guru di SMP Negeri 16 OKU ini.

Demi mengentaskan buta aksara dan rabun baca siswa-siswinya dibuatlah taman baca yang sangat instagramable.

Dengan konsep desain murah meriah memanfaatkan sebagian halaman sekolah yang masih luas, taman baca SMP Negeri 16 OKU terlihat cantik dan indah dipandang.

Disini di pasang tenda-tenda payung dan diberi meja kursi untuk duduk sambil membaca. Bila bosan duduk dikursi maka bisa memilih duduk di batu-batu kali yang besar-besar.

Ada pohon jeruk, belimbing, beringin dan lainnya yang selain menjadi penghijauan sekolah di taman ini, juga bisa untuk berteduh saat membaca.

Warna-warni cet pada dinding taman, bebatuan, serta pernak-pernik lainnya semakin membuat betah duduk di taman ini sambil membaca berbagai buku.

Membaca pun menjadi lebih nyaman tidak membosankan. Bukan itu saja, taman baca ini pun sangat bagus untuk dijadikan objek berswa foto usai membaca.

Kepsek SMP Negeri 16 OKU Sapto Surono SPd MM, menjelaskan, taman baca tersebut memang dibuat sedemikian rupa mengikuti perkembangan zaman.

Salah satu tujuannya untuk meningkatkan budaya membaca wajib tiga jam sehari yang jadi proram unggulan sekolah ini.

“Kita punya program unggulan baik akademik maupun non akademi. Salah satunya literasi yakni membudayakan membaca tiga jam sehari. Bukan hanya dalam kelas, tapi di luar kelas, di rumah dan dimana pun,” jelas Sapto, Rabu (5/2).

Program tersebut untuk menyukseskan Nawacita Presiden Joko Widodo di bidang pendidikan yang salah satunya penguatan pendidikan karakter (PPK).

PPK kata Sapto terkandung di dalamnya integritas, kedisplinan, jiwa gotong royong, religius, dan tanggung jawab.

“Literasi termasuk program unggulan yang sudah saya terapkan sejak menjabat Kepsek disini Januari 2019 lalu.   Seluruh siswa sebelum masuk kelas membaca, jam istirahat membaca, dan di rumah juga membaca,” tegasnya.

Bukan cuma siswa, guru pun demikian. Mereka punya waktu 15 menit untuk membaca sebelum masuk mengajar ke kelas.

Jadi memang semua keluarga besar SMPN 16 OKU punya budaya tiga jam membaca. Dia membandingkan di Korea dan Jepang menerapkan lima jam membaca maka di SMPN 16 OKU tiga jam membaca.

Evaluasi tiga jam membaca jelas Sapto lagi, anak didiknya pada saat jam pelajaran Bahasa Indonesia setiap  bulan akan ditanya intisari dari bahan bacaannya.

Baik berupa buku hikayat, legenda, ilmu pengetahuan dan buku-buku lainnya yang bermanfaat untuk meningkatkan wawasan berfikir siswa.

“Siswa diminta menceritakan tentang isi buku yang dibacanya selama 10 menit di depan kelas. Bila dia mampu menjelaskan di luar kepala atau tanpa teks tentang apa yang dibacanya tersebut artinya dia sudah menerapkan budaya tiga jam membaca di SMP Negeri 16 OKU,” Sapto.

Dia pun meyakini dengan program unggulan tersebut anak-anak SMP Negeri 16 OKU akan terbebas dari buta aksara dan rabun baca.

Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Dinas Pendidikan (Disdik) OKU M Darojatun SE ME mengaku telah mengetahui apa yang telah dilakukan Kepsek SMP N 16 OKU yang terletak di Desa Tanjung Lengkayap Kecamatan Lengkiti tersebut.

“Inilah yang kami harapkan. Yang dilakukan Pak Sapto itu mesti dicontoh para kepsek lain. Dia menjadi pioner dalam hal melakukan terobosan dan inovasi di dunia pendidikan. Tentu saja Pak Kadin sangat support dan berharap SMP Negeri 16 OKU terus berkreasi memajukan dunia pendidikan di sekolahnya,” kata Ajat saat bertemu di Disdik OKU.

Sementara itu, Kepala Disdik OKU Teddy Meilwansyah SSTP MM mengapresiasi positif kinerja Kepsek SMP Negeri 16 OKU Sapto Surono.

“Memang dari awal tahun 2020 ini saya menantang sekolah untuk melakukan inovasi, terobosan dan berkreasi. Kepsek jangan kerjanya biasa-biasa saja. Kalau cuma mengalir saja, linier tidak ada perkembangan maka akan kami evaluasi,” kata Teddy.

Teddy berjanji memberi reward bagi kepsek yang membuat inovasi dan terobosan dalam memimpin sekolahnya.

Tantangan dan reward ini menurut Teddy untuk memacu kepsek berlomba-lomba mengembangkan kegiatan belajar mengajar, akademik maupun non akademik. (djee)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.