by

Mengenal Tradisi Ngobeng Yang Tergerus Zaman, Coba Dihidupkan Lagi Kaum Milenial Kampung Kertapati

Beritatotal.com – Warga keturunan Palembang asli di Kampung Kertapati Kota Baturaja memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1443 H, Senin (28/2/2022) malam, dimulai setelah shalat Isya di Langgar Kertapati.

Peringatan momen sakral menandai turunnya perintah shalat lima waktu sehari semalam bagi umat Islam tersebut, diisi dengan beragam kegiatan keagaamaan. Seperti penampilaan rebana anak-anak TPA Langgar Kertapati, membaca solawat Nabi SAW, dan tausiyah oleh penceramah asal Kota Palembang.

Kali ini pengurus langgar juga menyajikan acara unik di penghujung acara. Yakni  mengajak jamaah dan tamu undangan menyantap hidangan makan malam yang disajikan menggunakan dulang atau nampan terbuat dari kayu.

Tradisi ini dikenal dengan sebutan ngobeng atau ngidang yang sudah puluhan tahun ditinggalkan masyarakat setempat.

Untuk diketahui, Kampung Kertapati terletak di Kelurahan Pasar Lama Kecamatan Baturaja

Timur. Menurut sesepuh masyarkat disini, HM Husin HM, kampung ini sebanyak 80 % dihuni warga keturunan Palembang Asli yang sudah mendiaminya sejak ratusan tahun lalu.

Agama mayoritasnya adalah Islam. Tak heran disetiap hari besar keagamaan umat Islam masyarakat setempat selalu memperingatinya dengan meriah.

Seperti memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SW 1443 H yang jatuh bertepatan tangggal 28 Februri 2020.

Pada peringatan Isra Miraj yang digelar di Langgar Kertapati tersebut, kegiatan intinya berupa tausiyah agama disampaikan penceramah yang didatangkan langsung dari Kota Palembang Ustad Muhmmad Zaki Mubarak Mas’id.

Dalam ceramahnya Ustad Zaki mengajak ratusan jamaah yang hadir untuk selalu melaksanakan empat hal. Yaitu banyak bersyukur, banyak ingat kepada Allah, banyak berdoa kepada Allah, dan banyak beristighfar atau mohon ampunan Allah.

“Inti dari peringatan Isra Miraj adalah membuktikan kekuasaan Allah,” tegasnyaa.

Setelah jamaah mendapat siraman rohani, pengurus langgar mengajak mereka untuk menyantap hidangan makan malam dengan tradisi ngobeng atau ngidang yang sudah puluhan tahun ditinggalkan masyarakat setempat.

“Tujuannya agar kaum milenial bisa mengenal kembali tradisi nenek moyang sejak ratusan tahun silam. Sebab tradisi ngobeng ini sudah tergerus zaman bahkan hilang sama sekali berganti dengan kebiasaan makan ala prasmanan atau prancisan,” kata Ketua PHBI Langgar Kertapati, HM Adityawarman Ssos.

Padahal menurut dia ngobeng merupakan kearifan lokal yang kental dengan nilai ajaran positif. Seperti mempererat tali silaturahmi dan menanamkan jiwa gotong royong serta saling tolong menolong.

Makan dengan cara ngobeng atau ngidang yakni sebanyak delapan orang duduk bersila membentuk lingkaran saling berhadapan. Mereka siap menyantap nasi dengan beragam lauknya yang berada di tengah-tengah.

Ngobeng juga tradisi menghubungkan makanan dalam kegiatan adat Palembang yang biasa dilakukan bukan hanya saat peringatan hari-hari besar agma Islam. Tapi juga bisa dilakukan dalam acara pernikahan, khitanan maupun  syukuran.

“Ngobeng menyediakan nasi baik nasi putih maupun nasi minyak dan lauk-pauknya di wadah terpisah namun dihidangkan dalam satu tempat. Satu dulang untuk maksimal delapan orang tapi ada juga yang lima atau enam orang,” jelas sesepuh Kampung Kertapati HM Husin HM.

“Kalau dulu sebagai lauknya ada 12 potong terdiri dari ayam 3 potong, daging 3 potong, ikan 3 potong dan telur 3 butir. Sekarang isinya satu satu atau disesuaikan dengan kemampuan,” imbuhnya.

Secara teknis ngobeng dilakukan dengan mengoper hidangan ke tempat makan yang dilapisi taplak meja. Mengoper tersebut bertujuan agar makanan segera tiba dan meringankan orang yang membawanya.

Untuk mempersiapkan ngidang atau ngobeng, warga setempat bergotong royong melibatkan mulai dari remaja, ibu-ibu dan kaum lelaki dewasanya. Mulai dari memasak membuat nasi minyak atau nasi putih, mempersiapkan lauk pauk berupa ikan, daging / ayam / sampai tahu dan tempe disesuaikan dengan kondisi kekinian.

Jadi, dalam peringatan Isra Miraj berkonsep melestarikan ngobengg di Langgaar Kertapati ini, selain mendapatkan pencerahan iman untuk meningkatkan ketaqwaan, jamaah dan masyarakat sekitar juga secara tidak langsung bisa memperkenalkan kepada kaum milenial agar tradisi ini bisa terus dilaksanakan untuk menjaganya supaya tidak hilang ditelan tradisi kekinian ala kebarat-baratan.

Apa yang dilakukan kaum milenial Kampung Kertapati yang juga merepresentasikan pengurus Langgar Kertpati, mendapat apresiasi Camat Baturaja Timur Ogan Amri SSTP.

“Kegiatan Ngomeng ini harus dilestarikan. Sangat positif bisa mempererat tali siaturahmi dan kental jiwa gotong royongnya,” pungkas Ogan. (djee)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.