by

Ini Tanda-Tanda Kedatangan Harimau, Warga Ulu Ogan Ngomongnya Begini Agar Tidak Dimangsa

Kades Gunung Tiga, Kecamatan Ulu Ogan, Dadang Wijaya

Beritatotal.com –  Desa-desa yang ada di Kecamatan Ulu Ogan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Provinsi Sumsel memang berada di ujung wilayah kabupaten. Letaknya berbatasan dengan Kabupaten Muaraenim dan dekat dengan Bukit Barisan.

Karena ada Bukit Barisan, kecamatan ini pun masih banyak hutan belantaranya dan masuk kawasan hutan lindung. Di dalamnya bisa ditemui medan terjal berupa jurang, sungai, anak-anak sungai, dan juga beberapa lokasi air terjun yang masih ‘perawan’.

Suhu udara disini tentu saja sedikit berbeda. Terutama bila pagi hari akan terasa sangat dingin sekali. Sebagian besar penduduknya bermata pencarian dengan bercocok tanam atau berkebun. Tidak sedikit yang membuka lahan bercocok tanamnya di hutan-hutan yang ada.

Desa Gunung 3 dan Desa Kelumpang adalah dua dari tujuh desa yang ada di Kecamatan Ulu Ogan. Warga dua desa tersebut kini dilanda keresahan karena ada petani bernama Peril melihat langsung penampakan harimau Sumatera di Objek Wisata Air Panas Gemuhak saat mau pulang dari berkebun.

Terkait kehadiran harimau yang sudah menjelajah dekat perkampungan penduduk itu, selama ini ada kebiasaan turun temurun bagi warga desa setempat. Kebiasaan tersebut berupa larangan-larangan yang mereka patuhi dan dipercaya bisa terhindar dari bertemu harimau bahkan sampai dimangsanya.

Untuk diketahui hewan buas dilindungi tersebut dalam bahasa Ogan-nya disebut himau. Menurut Kepala Desa (Kades) Gunung 3, Dadang Wijaya, sudah turun temurun mereka disana sebenarnya tidak boleh menyebut himau atau harimau.

“Yo Pak sebenarnya kalau kami tidak boleh dipanggil himau, kami panggil itu (harimau, red) nenek puyang. Dan kami tidak boleh ngomongkan ditu (himau, red) sembarangan terutama di tengah hutan,” kata Dadang Wijaya, Kamis 2 Januari 2020.

Warganya pun menurut Dadang punya feeling yang mereka semua mempercayainya sebagai pertanda kedatangan harimau.

“Kebiasaan kami kalau bulu kuduk sudah merinding biasanya dia (harimau, red) ndak jauh di sekitar kita Pak. Dan biasanya kami bilang nek jangan nganggu cucung kamu, kami nak cari rezeki. Atau kami tunjukkan jalannya, kami bilang ke arah situ jalan kamu nek,” ulas Dadang.

Namun, sambung dia, bila warga bertemu harimau dadakan maka mereka langsung memalingkan muka atau lari.

Selain feeling tersebut, mereka juga ada larangan-larangan bila masuk kawasan hutan. Diantaranya minimal kata Dadang bila mandi tidak menanggalkan seluruh pakaian. Maklum, habis berkebun petani disini bisa mencari sungai terdekat untuk membersihkan diri sebelum pulang kerumah.

Larangan lainnya yaitu bila sedang kehujanan dalam hutan jangan menudungkan (mamayungkan) kepala dengan daun yang istilah mereka adalah daun terap atau tekhap. Yaitu sejenis daun sukun.

Lalu, bagi yang mau membuka lahan perkebunan pantangannya janga membuat dangau atau pondok di atas matang panjang.

“Matang panjang itu bahasa kami. Kalau diartikan kira-kira semacam lahan tanah yang agak berbukit tidak terputus oleh jurang atau sungai atau anak sungai,” rinci Kades Dadang lagi. (djee)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.