by

Desi Angkat-Angkat Bayinya di Tengah Terjangan Banjir Berharap Ada Pertolongan, Dian Selamat Karena Terpegang Kayu

Dian dan Desi saat menceritakan kepada Kapolres OKU AKBP Arif Hidayat Ritonga, Minggu malam (14/6), terkait peristiwa yang dialami mereka ketika melintasi banjir di Desa Kepayang.

Beritatotal.com – Duka mendalam masih menyelimuti hati dan perasaan Dian Seno Aji (34) dan isterinya Desi Puspita Sari (31), yang baru saja kehilangan bayinya berusia 10 bulan dengan cara yang tragis.

Ditemui di kediaman mereka di Blok Kompas Desa Lubuk Banjar Kec. Lubuk Raja Kab. OKU, Dian dan Desi sudah mengikhlaskan kepergian anak laki-lakinya tersebut.

Balita mungil yang mereka beri nama Segara Banyu Bening tersebut sudah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Blok Kompas Desa Lubuk Banjar sekitar pukul 05.15 WIB, Minggu (14/6).

Banyu Bening ditemukan warga dan keluarga yang menyusuri sungai kecil di Desa Kepayang pasca hanyut terbawa arus deras karen Sungai Ogan di desa ini meluap. Saat ditemukan balita malang ini sudah  tidak bernyawa lagi tersangkut di akar, Minggu diniharinya pukul 02.00 WIB.

Kepada Kapolres OKU AKBP Arif Hidayat Ritonga SIK MH yang sengaja jauh-jauh datang langsung untuk mengucapkan belasungkawa, Dian menceritakan ihwal tragedi yang takkan pernah dilupakan seumur hidupnya tersebut.

Dikisahkan Dian didampingi isterinaya Desi, mereka berangkat dari rumah hendak menuju Baturaja melalui jalan di Desa Kepayang. Jalur ini lebih dekat dan jalannya cukup mulus kalau mau ke Kota Baturaja.

Penduduk Blok Kompas dan sekitarnya yang ada di Desa Lubuk Banjar juga banyak yang memilih jalur Desa Kepayang. Ketimbang jalur yang akan keluar ke simpang Desa Batumarta. Selain lebih jauh, jalannya pun banyak yang rusak parah.

“Awal masuk ke Desa Kepayang sekitar pukul 16.00 WIB. Tadinya kami benar-benar tidak tahu kalau Desa Kepayang sedang banjir. Kami kurang update (mengetahi perkembangan terkini, red) jika disana ada banjir,” Dian membuka kisahnya saat dikunjungi AKBP Arif.

Ketika itu Dian membawa motor dan anak pertamanya seorang perempuan bernama Bianka (9) duduk di depan. Kemudian di belakang duduk isterna Desi sambil menggendong Segara Banyu Bening.

Tiba di Desa Kepayang terlihatlah banjir menggenangi jalan dan perumahan penduduk setempat. Tapi di awal bertemu jalan terendam banjir, kondisi air tenang tidak berombak atau berarus deras.

Makanya kemudian dia merasa tenang saja melintasi banjir akibat Sungai Ogan di desa ini meluap sejak hari Jumat 13 Juni 2020.

Tapi, sampai ke tengah, sedikit merunduk bibir Dian mulai berat terbuka, ternyata banjirnya mulai berarus deras. Sampai sangat deras di atas tempat kejadian perkara (TKP) yang kemudian diketahui ada sungai kecil.

“Saat di tempat yang ada arus sempat ragu menyeberang, karena banyak motor yang lewat artinya aman. Kami menyeberang juga mengikuti yang lain,” katanya.

Namun, begitu sampai di tengah yang benar-benar berarus deras, Dian mengaku tidak kuat lagi menahan motor agar tak goyah didorong air deras ke samping kanannya.  

Sampai usahanya menahan motor agar tetap seimbang dan terus melaju tak maksimal lagi. Tangannya pun terlepas dan motor menjadi oleng sampai mereka sekeluarga jatuh.

Karena Dian mengenakan helm dan bermasker membuatnya tak leluasa untuk melihat dan melepas helm serta maskernya. Dia pun sempat hanyut dan mengaku tidak terlalu jauh terbawa arus karena terpegang kayu.

Isterinya yang menggendong bayi begitu terjatuh langsug berupa mengangkat-angkat bayi mereka agar tidak tenggelam.

“Sebenarnya isteri saya sudah berusaha seperti mengangkat-angkat ke atas berharap ada orang yang melihat dan ditolong. Tapi kemudian tidak kuat lagi dan lepas. Jadi bukan langsung tenggelam tidak diketahui begitu kami jatuh dari motor. Siapa Pak yang mau mendapatkan musibah seperti ini,” bebernya.

Isterinya Desi dan anak perempuan mereka Bianka akhirnya diselamatkan warga yang melintas. Sedangkan nasib malang tak bisa dihindari lagi menimpa anak bungsu mereka Banyu Bening. Dia hanyut disapu arus sderas luapan sungai yang airnya keruh lalu sembilan jam kemudian ditemukan sudah meninggal dunia.

Dian dan Desi menyebut cukuplah tragedi keluarga mereka menjadi peristiwa pertama dan terakhir kali di jalur tersebut.

Kedepan supaya di atas sungai kecil tersebut di pinggir kiri dan kanan ruas jalan di atasnya dipasang penanda permanen.

Sehingga bila terjadi lagi banjir maka penanda tersebut bisi diketahui warga yang melintas untuk lebih waspada. (djee)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.