by

Anggota Dewan Gebrak Meja dan Sekda OKU Agak Murka, RDP Soal Penanggulangan Corona Bertensi Tinggi

RDP DPRD OKU vs Satgas Covid
RDP DPRD OKU vs Satgas Covid-19, Sabtu (16/05)

Beritatotal.com – Pimpinan dan anggota DPRD OKU mengundang Tim Satgas Penanggulangan Covid-19 OKU, untuk menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama terkait penanggulangan wabah corona di OKU hingga saat ini.

RDP terpaksa dilakukan pimpinan dan anggota DPRD OKU karena gerah menerima banyak laporan kejanggalan kinerja Tim Satgas Penanggulangan Covid-19 OKU.

Terlebih satgas covid sering saling lempar ketika sering diminta konfirmasi dan klarifikasi oleh anggota dewan, menyampaikan aspirasi masyarakat daerah pemilihan masing-masing.

Puncaknya, saat terjadi antrian mengabaikan protokol kesehatan waktu pencairan bantuan sosial di Kantor POS. Kemudian kasus positif corona warga OKU melesat tajam dari 11 kasus menjadi 27 kasus.

Serta terjadi proses pemakaman salah seorang warga yang meninggal dalam kasus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) suspect corona di Desa Kedaton, Jumat sore (15/05) yang dilakukan relawan dadakan.

Bak kebakaran jenggot dan tak bisa lagi berdiam diri dengan kinerja satgas covid-19 OKU, pimpinan dan anggota dewan disini mengundang mereka untuk Rapat Dengar Pendapat (RDP).

RDP dilaksanakan di Gedung DPRD OKU Sabtu (16/05) dimulai pukul 20.00 WIB hingga selesai tengah malam pukul 23.30 WIB.

Jalannya RDP berlangsung alot dan bertensi tinggi. Sampai-sampai anggota dewan dari PKB Densi Hermanto menggebrak-gebrak dan memukul-mukul meja didepannya ketika menyampaikan permasalahan yang ditemuinya langsung.

Tak kalah panasnya, dengan nada emosi Kepala BPPD OKU Amzar Christofa membalas tudingaan yang dialamatkan kepadanya dalam keterlibatan di tim satgas.

Yang tak disangka-sangka, Sekda OKU Achmad Tarmizi selaku Wakil Ketua Satgas Covid-19 OKU sempat agak murka dalam perdebatan membahas corona tersebut.

Hanya saja, emosi Tarmizi bukan meng-counter tudingan anggota dewan melainkan saat tim rumah sakit dari RS DKT memberikan sumbang saran. Diketahui, perwakilan rumah sakit DKT termasuk dalam barisan tim satgas.

Tadinya RDP dijadwalkan Senin nanti (18/05) di tempat yang sama. Tapi karena situasi di lapangan dari kinerja tim satgas covid-19 dinilai dewan makin bobrok, RDP dipercepat untuk mencari solusi dan peningkatan penanggulangan wabah corona di OKU ini.

Anggota dewan yang hadir diantaranya Parwanto (pimpinan rapat), Densi Hermanto, Yopi Sahrudin, Naproni, MS Tito dan Hendro Putra Jaya. Tampak pula Sekretaris Dewan A Karim dan Kabag Persidangan Iwan Setiawan.

“Tadinya kami ini senang. Aman-aman saja karena memprediksi angka positif corona warga OKU bertahan cukup lama hanya 11 orang. Tapi kemudian melonjak mencapai 27 kasus. Lalu kami dapat informasi pemakaman PDP corona di Kedaton tidak siap dilaksanakan Satgas Covid OKU,” kata Yopi Sahrudin.

Belum lagi keluhan-keluhan masyarakat yang datang silih berganti kepada anggota DPRD OKU. Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena tidak terlibat dalam tim satgas.

Mengingat sebagai anggota dewan, mereka pun punya kewenangan dalam fungsi pengawasan. Sehingga dipanggillah tim Satgas Covid-19 OKU untuk mengikuti RDP bersama mereka.

Sementara Densi dengan nada tinggi mempermasalahkan soal longgarnya arus keluar masuk ke Kota Baturaja ini dari tiga pintu masuk yang ada. Yakni di Lubuk Batang, simpang Martapura, dan Batukuning.

“Saya lebih 10 kali melewati Posko Satgas menggunakan mobil berplat B tapi tidak ada petugas yang menyetop atau memeriksa. Di daerah tetangga kita keluar masuk orang luar sangat ketat diperiksa timnya,” demikian salah satu poin penting dikemukakan Densi.

Sedangkan Parwanto menyoroti soal pembagian bantuan sosial yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kabupaten OKU. Para penerimanya bervariasi mendapat bantuan tersebut dan jumlahnya tidak sama. Belum lagi bantuan sosial banyak yang tidak tepat sasaran.

Sekda OKU yang memimpin tim satgas dalam RDP ini menjelaskan semua yang telah dilakukan pihaknya sudah maksimal dan mengikuti kebijakan dan aturan yang berlaku dari pusat.

Terkait “insiden” pemakaman di Desa Kedaton, Tarmizi gentleman mau mengakui memang ada keteledoran dari Dinas Sosial. Dan dia pun meminta maaf atas kejadian tersebut.

“Sebenarnya pemakaman itu sudah sesuai protokol covid-19. Hanya saja memang petugas dari Dinsos terjadi miss komunikasi. Malam harinya juga ada pemakaman jenazah PDP dan sudah dilakukan tim pemakaman dari kabupaten secara protokol covid-19,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi kejadian seperti di Desa Kedaton tidak terulang, sambung Tarmizi, Bupati OKU sudah menerbitkan SK penunjukkan tim pemakaman jenazah korban corona. Tim ini diketuai oleh Dandim 0403 OKU.

Bahkan, sambungnya lagi, akan ada semacam gelar persiapan tim pemakaman korban corona ini. Diakunya pula, SK bupati yang fotonya sudah beredar memang belum ada tanggalnya.

Bukan dalam arti diterbitkan mendadak alias grasa-grusu pascakejadian pemakaman di Desa Kedaton,

“Tim penggali kubur yang ada dalam SK mau melihat nama mereka memang ada dalam SK Bupati itu. Mereka tidak mau bekerja jika tidak melihatnya langsung,” Tarmizi.

“Makanya sengaja saya fotokan dan saya berikan kepada Dinsos untuk diteruskan kepada yang bersangkutan agar mereka yakin namanya tercantum dan mau mulai bekerja,” imbuhnya

“Malamnya waktu pemakaman di Lubuk Batang tim pemakaman kabupaten sudah lengkap turun di Desa Bandar Agung,” Ia menambahkan lagi.

Meski RDP sempat berlangsung panas dan menegangkan, akhirnya selesai dengan kepala dingin semua. Beberapa poin penting langsung menjadi catatan untuk segera ditindaklanjuti tim satgas mulai hari ini. (djee)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.