by

AKBP Audie S Latuheru : Tanamkan Niat Mengabdi Bukan Menyogok

HEBOH kasus pengungkapan oleh Mabes Polri terkait dugaan adanya “permainan” uang untuk sekolah lanjutan periwara di Poda Sumsel baru-baru ini, membuat proses penerimaan calon anggota Polri di daerah benar-benar di awasi ketat.

Bahkan, Kapolres OKU Timur, AKBP Audi S Latuheru SIK, turun langsung memantau proses perekrutan anggota baru, dari ratusan pelamar di polres setempat. AKBP Audi juga mengumpulkan sebanyak 264 pelamar dalam upacara yang digelar di halaman Polres OKU. Selanjutnya memantau proses penyeleksian-penyeleksian yang dilakukan panitia. Seperti saat dilakukannya pengukuran tinggi badan dan menimbang berat badan pelamar.

Kapolres satu ini tidak ingin proses perekrutan anggota baru Polri dari wilayah yang dipimpinnya ada kecurangan. Terlebih peserta mau coba-coba “bermain” uang menyogok panitia. Hal tersebut benar-benar ditekan dia kepada ratusan pelamar ini.

Dia meminta pelamar Polri di OKU Timur bila serius ingin mengabdikan diri kepada negara dan masyarakat, cukup menyatakan niat dan kesiapannya  lalu mengikuti tahapan tahapan seleksi.

“Seluruh proses di tanggung negara. Mulai pendidikan, seragam ,makan, semua di tanggung negara tidak ada uang kalian yang keluar. Bila nantinya ada diantara kalian yang tidak lulus, berarti ada kriteria-kriteria yang tidak terpenuhi dan bukan karena masalah uang,” ingat AKBP Audi di sela-sela memantau proses penerimaan calon anggota Polri, Jumat (14/4).

Disambung dia, menjadi polisi adalah ladang pengabdian. Jadi para pelamar harus berniat mendedikasikan diri mengabdi kepada bangsa dan negara. Inilah kata dia wujud keseriuan peserta pelamar. Bukannya dengan “main belakang”.

Peserta kata dia harus benar-benar yakin bahwa tidak dengan uang sogokan akan lulus seleksi. Ini dialaminya sendiri ketika mengikuti proses masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) beberapa tahun silam. Cuma bermodal uang Rp 60 ribu, Audi yang kala itu harus bersaing dengan ribuan calon pelamar akhirnya menjadi satu dari empat orang yang lulus dari Papua.

Diceritakan dia, uang sebesar itu yang hanya dimilikinya bukannya untuk menyogok panitia. Tapi benar-benar digunakan untuk keperluan melengkapi administrasi pada proses pendaftaran. Memang, kata dia kala itu, dirinya masih ingat ada seorang panitia yang menanyakan berapa uang yang dibawanya. Dengan jujur Audie menyebut besaran uang yang dipegangnya itu.

“Saat pantohir, ada salah satu pelatih yang bertanya saya bawa uang berapa. Saya jawab saya hanya bawa uang 60 ribu yang untuk membeli materai dan mengirim surat kepada keluarga saya,” kenang Kapolres.

Dia pun bersyukur proses atau semua tahapan seleksi masuk AKABRI yang diikutinya berbuah manis. Hanya bermodal uang Rp 60 ribu Audi dinyatakan lulus menyisihkan ribuan pelamar lainnya. Dan dia pun bisa mengirim surat kepada orangtuanya memanfatkan sebagian uang dari Rp 60 ribu tadi.

Apa yang sudah dialami dirinya sendiri, menurut Audie, adalah bukti bahwa melamar menjadi anggota Polri tidak perlu bermain uang alias menyogok.

“Saya lulus hanya dengan modal enam puluh ribu rupiah. Pada waktu itu ada ribuan pelamar dari Papua dan kalau tidak salah hanya empat yang diterima,” pungkas pria yang kini sudah menyandang dua melati di pundaknya tersebut. (jeff)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.